logo
Counter Pengunjung

Trafik Pengunjung

Sugeng Rawuh
image

H. Bambang Pudjiyanto, BE

Anggota DPRD Banyumas


Anggota Fraksi PDI Perjuangan
call/sms : 081327584477

'Tsunami' Sudah Dekat, Bersatulah

image

Oleh : H Bambang Pudjianto BE


    Konferensi cabang (konfercab) dengan agenda utama memilih ketua serta jajaran pengurus baru dalam tubuh DPC PDI Perjuangan Kabupaten Banyumas tinggal menunggu hari.  Proses diawali dengan mengumpulkan aspirasi dari bawah melalui rapat pleno pengurus anak cabang atau PAC untuk menentukan usulan terbanyak siapa yang diinginkan oleh pengurus di tingkat kecamatan tersebut.  Awal itu, meski seperti biasa terjadi perang urat syaraf yang tak terelakkan antar pendukung calon ketua, namun secara umum sudah bisa berjalan dengan baik sebagaimna ketentuan yang ditetapkan DPP PDI Perjuangan . Alhamdulillah.
    Proses yang terjadi selama beberapa hari penjaringan melalui rapat pleno memang penuh diwarnai dengan riak-riak kecil ketegangan psikis antar kedua kubu, kubu Shinta Laila SH dan Juli Krisdianto SE. Namun demikian, harus disadari oleh seluruh kader, pengurus, tokoh maupun simpatisan bahwa itulah adanya sebuah proses demokrasi oleh partai yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokratatisasi yang ada di tanah air tercinta ini.  Sehingga harus dapat dipahami bahwa hasil apapun, dengan proses yang terjadi seperti apa, maka semestinya bisa disadari sebagai sebuah proses menuju keutamaan kedewasaan dalam berpolitik, yaitu sikap legowo.
    Di sini saya tidak akan membicarakan antara 'kalah' atau 'menang' karena bagi saya, proses penyerapan aspirasi yang sudah diatur dalam SK DPP PDIP No 435 Tahun 2009 itu, bukan didasari atas pemilihan siapa yang ditawarkan. Namun merupakan usulan yang disampaikan oleh masing-masing PAC. Sekali lagi, saya begitu berharap akan munculnya sikap kedewasaan dari keduabelah pihak untuk tidak saling mencerca satu sama lain. Yang merasa 'kalah' mereka juga harus legawa, sedangkan yang merasa 'menang' maka siapkanlah rasa tepa slira untuk tetap menganggap saudara satu partai adalah bagian dari keluarga besar.
    Tujuan utama dari gawe partai dalam konteks ini adalah kepemimpinan. Dan kepemimpinan itu tidak akan pernah terlepas dari kekuasaan.  Pun sebaliknya, membicarakan soal  masalah kekuasan menjadi sangatlah penting, karena inti dari sebuah kemepimpinan adalah pengaruh dari sebuah kekuasasan.  Joseph Reitz dan Linda N Jewell (1985) mengatakan, influence is the process by which managers affect other behavior. Power is the ability to exert influence.     Keberhasilan seorang pemimpin banyak ditentukan oleh kemampuannya dalam memahami situasi serta skill dalam menentukan macam kekuasaan yang tepat untuk merespon tuntutan situasi. Dalam istilah kita seringkali disebut 'tanggap'. Adalah pemimpin yang tanggap yang kemudian bisa dihargai untuk dijalankan 'titah'nya dengan tulus oleh mereka yang mengikuti .
    Ada beberapa sumber kekuasaan. Salah satu dari sumber kekuasaan adalah kekuasaan paksaan, yakni sebuah kekuasaan yang didasarkan atas rasa takut, seorang pengikut merasa bahwa kegagalan memenuhi permintaan seorang pemimpin dapat menyebabkan dijatuhkannya sesuatu bentuk hukuman. Inilah yang menurut saya, kekuasaan yang kemudian bermuara pada ketidakadilan bagi keseluruhan. Untuk memenuhi rasa adil, memang, itu bukan sebuah hal yang sama sekali mudah. Namun demikian, jika dalam merengkuh kekuasaan itu unsur paksaan masuk di dalamnya, maka proses yang terjadi nantinya akan berakibat pada ketidaktulusan dalam melakukan sesuatu. Saya pikir, kembali kepada proses penyerapan aspirasi dari awal proses konfercab ini, hal tersebut tidaklah terjadi. Tidak ada satupun, pihak-pihak yang selama ini melakukan paksaan untuk menentukan pilihan mereka terhadap calon pemimpin.
    Soal kekuasaan paksaan itu. Kekuatan paksaan itu juga timbul akibat kurang sebuah kharisma dalam diri seorang pemimpin. Padahal, kepemimpinan jelas tidak pernah terlepas dari daya tarik seseorang yang dikagumi oleh pra pengikutnya karena memiliki suatu ciri khas. Bentuk kekuasaan ini secara populer dinamakan kharisma. Pemimpin yang memiliki daya kharisma yang tinggi dapat meningkatkan semangat dan menarik pengikutnya untuk melakukan sesuatu, pemimpin yang demikian tidak hanya diterima secara mutlak namun diikuti sepenuhnya oleh bawahan yang secara langsung, jika kekuasaan itu ada pada tubuh partai maka hubungan yang paling erat adalah dengan konstituen atau rakyat.
    Memang bukan perkara yang mudah untuk bisa menciptakan kharisma. Tapi janganlah terlebih dulu mengolok-olok sebelum pemimpin itu berjalan melakukan tugasnya.. Toh, kita semua juga harus mengakui bahwa diri kita bukanlah manusia yang bisa melakukan segala hal. Karisma bukan tercipta karena sosok, tetapi karena bagaimana sosok itu melakukan hal-hal yang secara tulus bisa berguna bagi semua yang berkepentingan.
    Dalam konteks kepartaian, konflik internal memang kerap tidak bisa dihindarkan. Akan tetapi apakah semua pihak saat ini tidak bisa memperhatikan masa depan partai dimana ancaman dari eksternal begitu besar menghadang arus besar ini yang semakin hari menyusut akibat semakin melorotnya pondasi strukturul partai.  Kepada segenap simpatisan, pengurus maupun tokoh-tokoh partai yang selama ini telah banyak perjuangan demi kebesaran partai,  marilah kita letakkan idealisme ini dipundak kita demi mengukuhkan kepentingan besar kita ke depan untuk partai. Lupakan semua yang pernah terjadi karena kekuasaan bukanlah satu-satunya jalan untuk bisa memberikan sumbangsih kepada partai. Kita bukan musuh, tetapi saudara satu darah idealisme yang akan terus kokoh manakala jiwa kita selalu bersatu. Gelombang 'Tsunami' sudah terasa getarannya di depan kita, tak ada kata lain selain segera kita bersatu !!! ”Dharma eva hato hanti” . bersatu itu kuat, kuat karena bersatu.

 

 

Copyright © 2012 www.bambangpudjiyanto.com · All Rights Reserved