logo
Counter Pengunjung

Trafik Pengunjung

Sugeng Rawuh
image

H. Bambang Pudjiyanto, BE

Anggota DPRD Banyumas


Anggota Fraksi PDI Perjuangan
call/sms : 081327584477

Cikungunya atau Simbolisasi Yang Lebih Penting?

image

Oleh : H Bambang Pudjianto BE

 

          Bukan Banyumas jika saat ini, hal-hal yang menyentuh langsung sendi-sendi kehidupan masyarakat  kemudian dijadikan sebagai berita yang hanya dianggap sebagai angin lalu. Cikungunya, adalah salah satu contoh yang akhir-akhir ini menjadi topic utama sejumlah media massa terkait belum adanya tindakan kongkrit dari Pemkab Banyumas. Padahal, seperti yang kita tahu, keresahan yang disampaikan oleh masyarakat, bukanlah keresahan yang dibuat-buat oleh mereka,  akan tetapi memang benar-benar terjadi apa adanya.

          Informasi dari berbagai sumber terpecaya menyebutkan, sekitar 1500 warga mengalami demam Cikungunya. Dari awal yang terjadi di Cilongok, sampai merambah ke wilayah kecamatan lain seperti di Lumbir, Ajibarang, Sokaraja bahkan sampai di wilayah kecamatan di tengah kota . Tidak ada langkah kongkit yang membuat nyaman warga,  lagi-lagi warga hanya mengharapkan suara mereka yang  disampaikan ke media massa bisa terdengar sampai ke telinga sang penguasa.

          Sampai dengan beberapa bulan serangan Cikingunya wal terjadi di Cilongok, langkah kongkrit hampir tidak dilakukan oleh pemerintah. Saya bahkan sempat prihatin ketika menden gar kalau seorang pejabat mengatakan, itu tak akan menimbulkan kematian. Lalu, apakah benar jika penguasa melihat sebuah wabah hanya dibiarkan agar mereka sendiri yang mengatasinya? Di sisi lain, warga yang terserang adalah mereka yang biasanya bekerja satu hari untuk makan satu hari. Terutama para penderes gula kelapa, tukang ojek sampai pengangguran.

Berbicara soal tekhnis Cikuingunya. Gejala Cikungunya timbul dengan disertai tanda-tanda pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang. Ada yang menamainya sebagai Demam Tulang atau Flu Tulang. Gejala-gejalanya memang mirip dengan infeksi virus dengue dengan sedikit perbedaan pada hal-hal tertentu. virus ini dipindahkan dari satu penderita ke penderita lain melalui nyamuk, antara lain Aedes aegypti. virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini akan berkembang biak di dalam tubuh manusia .

Ironisnya, virus ini konon juga  menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis.. Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari. Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam. Sedangkan pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening . Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun shock. Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian.

Memutus rantai penularan dengan memberantas nyamuk tersebut sebagaimana sering disarankan dalam pemberantasan penyakit demam berdarah dengue. Insektisida yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini adalah dari golongan malation, sedangkan themopos untuk mematikan jentik-jentiknya. Malation dipakai dengan cara pengasapan, bukan dengan menyemprotkan ke dinding. Hal ini karena Aedes aegypti tidak suka hinggap di dinding, melainkan pada benda-benda yang menggantung.

Namun, pencegahan yang murah dan efektif untuk memberantas nyamuk ini adalah dengan cara menguras tempat penampungan air bersih, bak mandi, vas bunga dan sebagainya, paling tidak seminggu sekali, mengingat nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari.. Halaman atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda-benda yang memungkinkan menampung air bersih. Jadi, bisa saja sebenarnya sosialisasi digalakkan secara sistematis agar masyarakat bisa lebih paham dan mengerti.  

                    Saya tak habis pikir kenapa ketika potensi penyebaran ini terjadi di salah satu desa, tidak ada tindaklanjut yang serius. Di sisi lain, dinas yang menangani permasalahan ini tampa knya sedang sibuk menyiapkan kepindahan kantor (saat itu)  dari yang lama ke kantor yang dibangun dengan anggaran Rp 5 M dari anggaran APBD Tahun 2009 lalu.

          Ironisnya lagi, saya sebut ironis karena disaat masyarakat sedang ketakutan dengan wabah baru itu, sang penguasa bukanlah mencoba untuk melakukan langkah agar masyaraka tenang akan tetapi justru melakukan kegiatan lain seperti simbolisasi/penanda desa dengan menanam pohon yang konon dianggap pohon khas desa-desa tertentu. Jelas, acara itu dibuat secara seremonial. Dilaksanakan di sedikitnya 35 desa yang memiliki nama mirip seperti tanaman. Padahal jika dihitung, penyebaran Cikungunya yang terjadi belum sampai pada jumlah desa yang dikunjungi penguasa. Jika saja, penguasa  juga melakukan sosialiasi penanggulangan dengan mengunjungi separuh saja dari jumlah desa yang sedang terkena wabah, maka setidaknya, masyarakat juga telah merasa telah diperhatikan.  Sayangnya, hal-hal yang sebenarnya penting kadangkala masih dianggap bukan menjadi hal yang harus didahulukan. Cikungunya adalah contoh kasus yang kesekian kali. (***)

 

Copyright © 2012 www.bambangpudjiyanto.com · All Rights Reserved