
Dengan seksama Roy BB Janis menyaksikan acara pelantikan menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid 2. Tapi sekalipun saat pilpres partai yang
dipimpinnya, Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) menjadi partai pendukung SBY di Pilpres, Roy hanya menonton acara pelantikan tersebut melalui televisi di
rumahnya, di bilangan Pondok Indah, Jakarta.
"Saya kan tidak diundang. Tapi memang lebih enak nonton dari televisi saja. Sama saja," jelas Roy, Ketua Pelaksana Harian PDP, saat berbincang-bincang dengan detikcom.
Roy mengaku tidak merasa risau jika partai-partai kecil yang tidak lolos electoral treshold, yang dulu mendukung SBY tidak ada satu pun tokohnya yang
nyangkut di kabinet teranyar bentukan SBY. Sementara partai yang dulu menjadi kompetitor, seperti Golkar, justru masuk dalam kabinet.
Menurutnya, Forum Persatuan Nasional, forum partai-partai kecil yang mendukung SBY di Pilpres, dapat memahami langkah yang diambil SBY dalam menetapkan
menteri-menterinya. "Kami memaklumi sikap SBY. Penetapan menteri kali ini memang bertujuan untuk menjaga stabilitas parlemen.
"SBY belajar dari pengalaman 5 tahun lalu, yang sering "digoyang" di parlemen. Sehingga saat ini SBY lebih memilih mengamankan partai-partai yang ada di
parlemen," sambung Roy.
Meski tidak ada satu pun partai kecil yang dilibatkan dalam kabinet, Roy merasa yakin kalau SBY tidak akan meninggalkan mereka. Akan ada cara lain yang akan
dilakukan SBY untuk memperhatikan mereka. Apalagi, mereka mengklaim punya basis dukungan massa yang cukup konkret.
Pasalnya, kata Roy, jika suara partai-partai kecil pendukung SBY digabung jumlahnya mencapai 14 %. "Kekuatan pendukung kita cukup signifikan terutama di daerah-daerah. Sedangkan sasaran program pemerintah adalah masyarakat, khususnya yang ada di daerah-daerah," paparnya.
Namun apa dan bagaimana perhatian yang akan diberikan SBY kepada partai-partai kecil pendukungnya, Roy belum bisa menjelaskan. Alasannya, hal tersebut adalah hak penuh SBY. Yang jelas, imbuh Roy, SBY tidak akan melupakan mereka.
Dijelaskan pula, untuk menyikapi pelantikan KIB jilid 2, Forum Persatuan Nasional, akan mengadakan rapat untuk menyikapi penetapan tersebut. Rapat itu
akan dilaksanakan pada 22 Oktober, besok di Jalan Denpasar, Jakarta Selatan. "Agendanya hanya menyikapi kabinet yang baru dibentuk SBY. Dan kerjasama kami dengan pemerintahan SBY ke depan," jelasnya.
Sayangnya Roy enggan menyebutkan kerjasama apa yang dimaksud. Namun menurut pengamat politik Yudi Latief, perhatian yang akan diberikan SBY kepada
partai-partai gurem yang tidak lolos ke parlemen tak jauh dari pemerintahan. "Bisa saja untuk posisi dirjen atau komisaris. Saya rasa seperti itu," jelas
Yudi saat dihubungi detikcom.
Alasan yang dikemukakan Yudi berdasarkan kesan yang terlihat dari penetapan menteri-menteri yang baru dilantik. SBY dianggap Yudi akan mencari aman dengan
mengakomodir semua kekuatan yang ada, baik di parlemen maupun di luar parlemen.
Hanya saja, kata Yudi, sikap cari aman yang diambil SBY bakal berisiko terhadap jalannya program yang disampaikan SBY saat kampanye. Karena penempatan menteri atau pejabat pemerintah hanya berdasarkan bagi-bagi kekuasaan.
"Saya melihat paling tidak 40% menteri yang dipilih kurang kompeten di posisinya. Dan sangat terlihat kabinet SBY kali ini tidak lebih baik dari
kabinet sebelumnya. Karena sifatnya hanya power sharing saja," begitu kata Yudi.
Namun, menurut pengamat politik UI Lili Romli, keraguan akan kinerja kabinet di pemerintahan SBY bisa diatasi jika SBY mau tegas dalam mengevaluasi kinerja para menterinya. Apalagi SBY sudah berjanji akan melakukan evaluasi kinerja menterinya setiap tahun.
"Harapan masyarakat hanya dari situ. Semoga saja SBY akan serius dan tegas dalam mengevaluasi kinerja para menteri dan para pejabatnya," pungkas Lili.
Sumber : Deden Gunawan - detikNews
Copyright © 2010 www.bambangpudjiyanto.com · All Rights Reserved
Powered by sitekno